|
Suwarno Wisetrotomo: Bukan Pelukis Wacana |
|
Ditulis oleh Hajir Mumu
|
|
Senin, 18 Mei 2009 08:51 |
Surabaya: Pengamat dan kurator seni lukis asal Yogjakarta, Suwarno Wisetrotomo mengatakan, Pasar Seni Lukis Indonesia yang diselenggarakan Sanggar Merah Putih di Surabaya ini harus terus digelar untuk melengkapi keberadaan galeri dan balai lelang.
Saat bersama Yusuf Susilo Hartono, Pemimpin Redaksi Majalah Visual Arts jadi pembicara dalam diskusi di PSLI 2009 di Balai Pemuda Surabaya, Rabu (6/5), Suwarno mengatakan, harga lukisan di pasar seni pasti jauh lebih murah dibanding harga lukisan di galeri atau balai lelang.
"Di kota besar di Indonesia seperti Surabaya, pasti punya banyak galeri lukisan. Namun tidak semua masyarakat berkesempatan mengoleksi lukisan karena harganya yang tidak murah. Karena itu pasar ini dapat menjadi salah satu alternatif tempat untuk mendapatkan lukisan yang berkualitas tetapi dengan harga terjangkau," tambahnya.
Karena itu Suwarno berharap, pemerintah dapat mendukung kegiatan seperti ini, sehingga kelangsungan karya pelukis nasional akan terus berlanjut. ”Saya sangat salut kepada penyelenggara pasar seni ini yang mampu menggelar event berskala nasional,” katanya.
Ditambahkan, ada dua jenis pelukis di Indonesia. "Pertama mereka yang hidup di dunia wacana seperti terkenal di koran, majalah. Mereka terkenal karena ikut pameran berskala besar, tingkat nasional, regional atau internasional. Kedua adalah pelukis yang menggantungkan hidup pada hasil karyanya. Mereka mungkin tidak terkenal, tetapi ada dan terus berkarya. Saya rasa jumlahnya amat banyak. Mereka hidup di dunia nyata, bukan dunia wacana. Dan di pasar seni inilah pelukis jenis kedua ini mendapatkan tempatnya," kata Suwarno.
|